Feeds:
Posts
Comments

Garam merupakan bumbu yang selalu digunakan dalam masakan sehari-hari. Tapi sebaiknya perhatikan jumlah asupan garam yang dikonsumsi, karena jika berlebihan bisa memicu beberapa.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Kelebihan garam dalam tubuh bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan, termasuk rasa haus, anemia, rasa lapar palsu dan beberapa penyakit utama seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (17/6/2011) yaitu:

1. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Asupan garam yang tinggi diketahui bisa meningkatkan tekanan darah. Studi tahun 2007 menemukan pasien dengan tekanan darah tinggi akan mendapatkan manfaat yang signifikan dengan mengurangi asupan garam.

2. Penyakit kardiovaskular
Tekanan darah yang tinggi bisa mengakibatkan seseorang terkena penyakit serius yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti jantung dan kelumpuhan stroke. Diketahui mengurangi asupan 1 gram garam bisa mengurangi risiko stroke hingga seperenamnya.

3. Pembesaran jantung
Catatan medis menemukan asupan garam yang tinggi bisa membuat seseorang berisiko menderita left ventricular hypertrophy (pembesaran dari jaringan otot yang membentuk dinding utama jantung untuk memompa).

4. Retensi cairan
Jumlah natrium dalam tubuh menentukan tingkat cairan. Jika konsumsi garamnya terlalu banyak maka ginjal akan sulit menghilangkannya dan membuat tubuh mempertahankan cairan yang bisa memicu pembengkakan.

5. Gangguan sistem pencernaan
Garam berlebih yang masuk ke tubuh bisa berinteraksi dengan bakteri H.pylori yang menyebabkan tukak lambung, serta garam berlebih bisa mengurangi jumlah pepsin (enzim pencernaan) di dalam tubuh yang akan meningkatkan keasaman dan diare.

6. Meningkatkan sekresi empedu
Ketika seseorang banyak mengonsumsi makanan asin maka sekresi empedu akan meningkat yang menyebabkan kepadatan darah semakin tinggi sehingga mengurangi vitalitas. Hal ini juga mengakibatkan masalah kulit seperti wajah dan bibir kering serta kadang menyebabkan sakit dan pendarahan di bibir.

7. Osteoporosis
Kelebihan garam bisa mencegah penyerapan kalsium dalam tubuh yang membuat seseorang rentan terkena osteoporosis.

Sumber: DetikHealth

“Jangan cuci muka kalau sedang kepanasan nanti mukanya belang”. Kata-kata ini seringkali didengar oleh masyarakat. Benarkah habis panas-panasan tidak boleh cuci muka?

Cuci muka adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari manusia dan kegiatan ini seringkali dilakukan saat pagi dan malam hari sebelum tidur. Tapi saat cuaca sedang panas atau baru pulang bepergian seseorang ingin sekali langsung mencuci mukanya.

Kegiatan cuci muka bisa membantu membersihkan segala debu dan partikel yang menempel di wajah serta menjaga kelembaban kulit muka agar wajah tetap halus dan lentur serta mencegah timbulnya jerawat.

Tapi sebaiknya tidak mencuci muka saat sedang udara panas atau kepanasan, karena udara panas dan keringat bisa menyumbat pori-pori. Untuk itu tunggulah beberapa saat sampai suhu tubuh kembali normal dan pori-pori kulit berada dalam kondisi yang normal.

Setelah suhu tubuh normal barulah disarankan untuk mencuci muka. Tapi langkah yang paling penting adalah mencuci tangan terlebih dahulu agar kotoran, kuman dan zat-zat lain yang menempel di tangan tidak berpindah ke wajah, seperti dikutip dari Discovery, Jumat (8/4/2011).

Selain itu sebaiknya menahan keinginan untuk menggosok wajah dengan handuk agar bisa cepat bebas dari keringat. Karena jika suhu tubuh masih panas atau belum normal, pori-pori wajah akan tetap tersumbat.

Saat mencuci muka jangan menggunakan air yang panas karena bisa membuat kulit kering dan berbahaya. Gunakan air hangat untuk mencuci muka lalu membilasnya dan diakhiri dengan membasuh muka menggunakan air dingin.

Hindari daerah sekitar mata saat cuci muka karena sebagian besar bahan kimia yang terkandung di dalam sabun bisa mengiritasi mata. Dan daerah kelopak mata memiliki kulit yang paling sensitif jadi harus ekstra lembut di sekitar daerah itu. Serta hindari pula produk wajah yang mengandung wewangian karena bisa menjadi penyebab utama iritasi kulit.

Jika udara sedang panas atau baru pulang bepergian sebaiknya tunggu sesaat sampai suhu tubuh kembali normal dan tidak berkeringat lagi baru mencuci muka, sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih maksimal.

 

Sumber: DetikHealth

Beberapa orangtua kadang tidak sabar ingin cepat-cepat memberikan makanan untuk bayinya. Tapi ingat, ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada bayi berdasarkan usianya.

Saat bayi tumbuh dan bertambah usianya maka orangtua mulai ingin memperkenalkan beberapa variasi makanan untuknya. Tapi tidak semua makanan aman bagi anak, beberapa diantaranya memiliki bahaya tersedak dan yang lainnya tidak baik dikonsumsi karena bayi belum memiliki sistem pencernaan yang sempurna.

Beberapa makanan sebaiknya dihindari oleh bayi berdasarkan usianya, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (8/4/2011) yaitu:

Usia 4-6 bulan
Orangtua sebaiknya tidak memberikan makanan jenis apapun pada bayi sekalipun makanan tersebut lembut atau berupa bubur, karena semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sudah tercukupi melalui ASI sampai 6 bulan pertama.

Usia 6-12 bulan
Meskipun bayi sudah boleh menerima makanan selain susu, tapi beberapa jenis makanan sebaiknya dihindari oleh bayi yaitu:

  1. Madu, ada kemungkinan madu mengandung Clostridium botulinum yang bisa menyebabkan botulisme. Pada orang dewasa saluran ususnya bisa mencegah pertumbuhan spora ini, tapi pada bayi spora ini bisa tumbuh dan menghasilkan racun yang mengancam jiwa.
  2. Selai kacang, selai kacang umumnya memiliki tekstur yang lengket sehingga membuat bayi sulit untuk menelan.
  3. Susu sapi, umumnya bayi tidak bisa mencerna protein dalam susu sapi untuk 1 tahun pertama. Selain itu ia juga tidak membutuhkan semua nutrisi yang terkandung di dalam susu, dan jumlah tertentu dari mineral bisa merusak ginjalnya.
  4. Makanan dengan potongan besar, sayuran seperti wortel, seledri atau tomat, daging atau keju sebaiknya dipotong dadu kecil, diparut atau direbus lalu dipotong untuk mencegah makanan tersebut terjebak di tenggorokan. Sedangkan untuk buah sebaiknya diberikan dalam bentuk jus.
  5. Makanan keras, jenis makanan seperti kacang-kacangan, popcorn, permen keras, kismis atau buah kering lainnya berpotensi tersedak.

Usia 12-24 bulan

  1. Susu rendah lemak, sebagian besar anak balita muda membutuhkan lemak dan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan, karena itu hindari susu yang rendah lemak untuk anak dibawah usia 2 tahun.
  2. Hindari pula makanan yang berpotensi menyebabkan tersedak.

Usia 24-36 bulan
Meskipun anak sudah lebih banyak mengonsumsi variasi makanan, tapi masih ada kemungkinan ia tersedak oleh makanan. Untuk itu tetap hindari makanan yang keras, berpotongan besar serta permen karet karena umumnya anak belum mengerti cara mengonsumsi yang benar. Selain itu hindari anak makan sambil berjalan, menonton tv atau melakukan hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari makanan.

Makanan yang dikonsumsi anak memiliki fungsi penting sebagai nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangannya, tapi orangtua juga harus mempertimbangan sistem pencernaan yang dimiliki oleh anak apakah sudah sempurna atau belum.

 

Sumber: DetikHealth

Air putih merupakan cairan yang paling dibutuhkan untuk hidrasi tubuh. Tapi penelitian baru juga menunjukkan bahwa teh memiliki sifat hidrasi yang sama dengan air putih.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Inggris telah menemukan bahwa minum teh 4 sampai 6 gelas per hari sama artinya dengan minum 1,5 liter air.

Hidrasi yang tepat pada tubuh sangatlah penting. Air diperlukan untuk memainkan fungsi di otak, ginjal dan jantung. Hidrasi yang tepat membantu menjaga sendi dan pelumasan otot. Air bahkan bisa membantu Anda dalam menurunkan berat badan dengan menekan nafsu makan dan mempercepat metabolisme.

Penelitian telah menunjukkan bahwa teh tidak menyebabkan dehidrasi (kekurangan air) tetapi justru memiliki sifat hidrasi yang hampir sama dengan air putih.

Dalam penelitian ini, peneliti meminta 21 orang laki-laki usia rata-rata 36 tahun untuk mengonsumsi teh. Selama 12 jam, partisipan tersebut diminta untuk minum 240 ml teh dengan 20 ml susu semi-skim dan tanpa gula dengan air yang mendidih.

Pada tes yang serupa, partisipan diminta untuk mengulang minum 6 gelas teh atau sekitar 1,5 air putih.

Untuk memeriksa tingkat hidrasi, sampel darah diambil sebelum konsumsi minuman dan juga secara berkala.

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa teori yang mengungkapkan minum teh bisa meningkatkan risiko dehidrasi pada seseorang karena mengandung kafein adalah tidaklah benar.

Ahli gizi di Tea Advisory Panel menemukan bahwa 6 gelas teh dan 1,5 liter air putih memberikan hidrasi yang sama, seperti dilansir Medindia, Jumat (1/4/2011).

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition.

Manfaat dari teh tidak hanya untuk merehidrasi, tapi juga melindungi tubuh terhadap beberapa penyakit seperti jantung dan kanker. Para ahli percaya bahwa senyawa antioksidan flavonoid yang menjadi bahan utama teh bisa meningkatkan kesehatan. Tapi perlu diperhatikan bahwa manfaat teh dapat diperoleh bila gula yang ditambahkan tidak berlebihan.

 

Sumber: DetikHealth

Banyak orangtua yang tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa anaknya menyandang autis. Padahal bila autis dideteksi secara dini, maka bisa membuat peluang anak autis untuk mandiri lebih besar. Setidaknya ada 7 ciri utama autisme.

Diperkirakan sekitar 67 juta orang di dunia menyandang autis. Autisme diyakini sebagai gangguan perkembangan serius yang meningkat paling pesat di dunia.

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti penyebab penyakit tersebut dan belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Namun, deteksi dan penanganan dini akan membantu perbaikan perkembangan anak penyandang autis.

“Dari studi lebih dari 20 tahun yang dilakukan Robins D dkk dalam ‘The Modified Checklist for Autism in Toodlers, Journal of Autism and Development Disorders’ ada 7 checklist yang bisa digunakan untuk mendeteksi autis secara dini,” jelas Gayatri Pamoedji, SE, MHc, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), dalam acara Media Briefing Peluncuran Komik Autisme Pertama di Indonesia di Rumah MPATI, Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Gayatri menyampaikan 7 ciri utama untuk mendeteksi anak autisme, yaitu:

  1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain?
  2. Apakah anak Anda pernah menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu?
  3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari 1 atau 2 detik?
  4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah anak Anda menirunya?
  5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil?
  6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan tersebut?
  7. Apakah anak Anda pernah bermain ‘sandiwara’ misalnya berpura-pura berbicara di telepon atau berpura-pura menyuapi boneka?

Seorang anak berpeluang menyandang autis jika minimal 2 dari pertanyaaan diatas dijawab tidak.

“Tidak semua anak yang berpeluang menyandang autis memenuhi kriteria autis. 7 ciri utama ini digunakan agar orangtua dan guru waspada untuk segera memeriksa dan mendiagnosa anak yang berpeluang autis kepada dokter terdekat,” jelas Gayatri.

Menurutnya, Modified Checklist for Autism in Toodlers bisa digunakan untuk mendeteksi gejala autis untuk anak usia 18 bulan atau sebelum 3 tahun.

“Karena gejala autisme biasanya tampak sebelum anak mencapai usia tiga tahun,” lanjut Gayatri yang juga seorang ibu dari remaja penyandang autis.

Menurutnya, bila orangtua sudah bisa mendeteksi gejala autisme secara dini maka mereka akan memiliki peluang yang semakin besar untuk membuat anaknya menjadi mandiri.

“Yang penting membuat anak mandiri dan jauhkan mitos-mitos yang salah tentang autis. Punya anak autis memang berat tapi bukan akhir dari segalanya. Setipis apapun, harapan itu pasti ada,” tegas Gayatri.

 

Sumber: DetikHealth

Sayuran dan bahan makanan sehat yang telah dipilih dengan cermat bisa juga menjadi sumber datangnya penyakit. Karena itu kenali cara menanganinya dan olah dengan tepat sehingga membuat tubuh menjadi sehat, bukan malahan jadi sakit!

Sayuran hijau, buah-buahan, memang sangat baik untuk tubuh karena kaya akan vitamin dan  mineral. Namun makanan segar dan sehat tersebut ternyata juga bisa jadi sarang penyakit.

The Center for Science in the Public Interest telah membuat daftar 10 jenis makanan yang bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit. “Waspada terhadap bahayanya tapi bukan berarti menghindari makanannya. Mengolah dengan baik bisa terhindar dari penyakitnya,” ujar Sarah Klein, CSPI staff.

Sayuran Hijau

Sayuran hijau disukai karena mengandung serat yang tinggi dan  antioksidan. Namun sayuran hijau bisa menjadi penyebab beberapa jenis penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang dibawa dari air sewaktu menanam. Untuk menghindarinya, cucilah sayuran di bawah air yang mengalir agar bakteri dan kotoran larut bersama air.

Telur
Telur merupakan sumber protein hewani yang baik. Sarapan telur bisa menghindarkan diri  ‘kalap’ saat makan siang. Meski begitu, telur sangat mudah terkontaminasi dengan bakteri Salmonella. Perhatikan benar-benar proses memasaknya. Pastikan telur yang  dimakan sudah matang agar kuman-kuman mati dalam proses pematangan.

Ikan Tuna
Ikan tuna adalah jenis ikan yang mudah terkontaminasi dengan scombrotoxin yang bisa menyebabkan sakit kepala dan kram. Apabila ikan tuna disimpan dalam suhu lebih dari yang seharusnya, maka toksin tersebut akan sulit hilang meskipun sudah melalui proses pemasakan.

Kentang

Kentang kecil yang sering dibuat campuran rendang biasa dimasak tanpa dikupas kulitnya. Jika dibersihkan dengan benar bakteri serta zat kimia yang menempel di kulit bisa hilang. Bakteri yang kerap kali menempel pada kentang diantaranya adalah Salmonella, E. Collidan Shigella.

Keju
Keju memang enak rasanya, namun juga mengandung beragam bakteri karena memang dibutuhkan selama proses pembuatan keju. keju bisa saja terkontaminasi bakteri Salmonella atau Listeria. Tak heran jika ibu hamil tidak dianjurkan makan keju
seperti fetta chese, blue cheese untuk menghindari bakteri yang ada di dalamnya.

Tomat
Karena tomat dikonsumsi berikut kulitnya, pastikan selalu mencuci di bawah air yang mengalir.  Pastikan pula alat memasak yang digunakan seperti pisau untuk memotong sudah dalam kondisi bersih.

Tauge
Kadang suka malas membersihkan bagian ujung dari tauge. Padahal hal ini penting dilakukan agar tauge cukup aman di konsumsi. Proses membuang akarnya cukup makan waktu karena itu sering dibiarkan bersama akarnya. Mulai saat ini, luangkan
waktu untuk membersihkan tauge agar lebih bersih dan sehat saat dimakan.

 

Sumber: DetikHealth

Kadar gula yang tinggi dalam susu formula bisa memicu pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang, terutama pada bayi dan anak-anak. Sesudah anak selesai minum susu, biasakan untuk ‘membilas mulutnya dengan minum segelas air putih.
Anjuran umum yang banyak dilakukan para orangtua ini dibenarkan oleh ahli gizi dari Universitas Indonesia, dr Samuel Oetoro, MS, SpGK dalam peluncuran kampanye Mulai Hidup Sehat dari Sekarang yang diprakarsai Danone-Aqua di XXI Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (16/3/2011).

“Susu mengandung karbohidrat dan laktosa (bentuk lain dari gula), yang bisa melekat di gigi lalu merusak lapisan email. Jadi anjuran itu benar, membersihkannya memang bisa dilakukan dengan kumur-kumur lalu minum air putih,” ungkap dr Oetoro.

Di dalam mulut, gula menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan bakteri jahat yang bisa merusak email atau lapisan terluar gigi. Akibatnya gigi menjadi berlubang, membusuk atau caries dan bahkan bisa menyebabkan gusi bengkak karena infeksi.

Selain dipicu oleh susu, gigi berlubang juga disebabkan oleh makanan atau minuman lain yang juga mengandung gula. Apalagi bagi anak-anak yang masanya suka jajan, jenis makanan yang paling disukai umumnya makanan manis seperti permen dan gulali.

Gigi yang paling rentan mengalami pembusukan maupun berlubang biasanya adalah gigi geraham. Selain karena posisinya paling belakang, gigi geraham paling banyak memiliki alur dan celah yang kadang-kadang sulit dijangkau saat menggosok gigi.

Meski gigi anak belum permanen dan akan tanggal suatu saat nanti, namun jika berlubang maka tetap akan berdampak pada kualitas hidupnya. Misalnya jika terjadi infeksi, maka anak akan mengalami demam dan akibatnya tidak bisa bermain dan masuk sekolah.

 

Sumber: DetikHealth