Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Dunia Si Kecil’ Category

Balita membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itulah balita yang kurang tidur siang bisa lebih stres dan tidak bahagia, yang berisiko mengalami masalah mental seumur hidupnya kelak.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian baru yang dilakukan oleh peneliti dari University of Colorado Boulder.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak kecil yang kehilangan sekali waktu tidur siang saja bisa menjadi lebih cemas dan kurang tertarik pada dunia mereka. Anak yang kurang tidur siang juga kurang merasa bahagia dan sulit mengatasi stres.

Dan dalam jangka panjang, kurang tidur bahkan bisa menyebabkan masalah yang terkait dengan suasana hati seumur hidup.

Dalam penelitian ini, peneliti mengukur pola tidur balita berusia 2 sampai 3 tahun dengan mengenakan perangkat khusus yang mengukur berapa banyak mereka tidur. Peneliti kemudian menggambarkan ekspresi wajah balita ketika mereka mendapatkan tidur siang dan ekspresi lain pada saat kehilangan tidur siang.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research, menunjukkan bahwa balita tampak lelah dan 34 persen kurang positif bila kurang mendapatkan tidur siang. Mereka juga menjadi 3 kali lebih stres dibandingkan dengan yang mendapatkan cukup tidur.

Anak-anak yang kurang tidur juga 39 persen menjadi kurang penasaran, sehingga menjadi tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.

“Studi ini menunjukkan kurang tidur dapat menyebabkan balita mengekspresikan perasaan yang berbeda, yang dari waktu ke waktu dapat membentuk perkembangan otak emosional dan menempatkan mereka pada risiko masalah yang berhubungan dengan suasana hati seumur hidup,” jelas Prof LeBourgeois dari University of Colorado Boulder, seperti dilansir Dailymail, Kamis (5/1/2012).

Sama seperti gizi yang baik, lanjut Prof LeBourgeois, tidur yang cukup juga merupakan kebutuhan dasar.

Sumber: DetikHealth

Read Full Post »

Banyak yang berpikir seorang bayi belum mengerti apa-apa. Tapi studi menunjukkan bahwa kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah sudah dimiliki sejak usia 15 bulan.

Para peneliti menuturkan dalam penelitian ini bayi memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang adil dan tidak adil seperti dalam pembagian makanan dengan orang lain. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran awal mengenai keadilan sehingga bisa membedakan mana yang benar dan salah.

“Temuan kami menunjukkan bahwa norma-norma seperti keadilan lebih cepat diperoleh dari yang kita duga, seperti bayi yang lebih sensitif terhadap pembagian makanan atau mainan yang tidak adil,” ujar Jessica Sommerville, profesor psikologi dari University of Washington, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (8/10/2011).

Studi yang hasilnya diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE ini memperlihatkan 2 video singkat bayi berusia 15 bulan. Diketahui bayi menghabiskan banyak waktu untuk melihat bagaimana distribusi suatu makann dan melihat apakah ada seseorang yang mendapatkan lebih banyak dibanding orang lain.

“Bayi mengharapkan adanya distribusi yang sama dan adil dari makanan tersebut, dan mereka akan terkejut jika melihat satu orang mendapatkan biskuit atau susu lebih banyak dibanding yang lain,” ujar Sommerville.

Sommerville mengungkapkan bayi cenderung melihat adanya keadilan dan ketidakadilan dengan cara mengamati bagaimana seseorang memperlakukan satu sama lain. Bayi akan terkejut jika ia melihat adanya perbedaan distribusi.

“Hasil percobaan menunjukkan pemahaman mengenai keadilan dan salah benar sudah ada sejak dini. Mereka bersedia berbagi dengan yang lain dan akan benar-benar sensitif terhadap adanya pelanggaran keadilan tersebut,” ungkapnya.

 

Sumber: http://www.detikhealth.com

Read Full Post »

Beberapa orangtua kadang tidak sabar ingin cepat-cepat memberikan makanan untuk bayinya. Tapi ingat, ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada bayi berdasarkan usianya.

Saat bayi tumbuh dan bertambah usianya maka orangtua mulai ingin memperkenalkan beberapa variasi makanan untuknya. Tapi tidak semua makanan aman bagi anak, beberapa diantaranya memiliki bahaya tersedak dan yang lainnya tidak baik dikonsumsi karena bayi belum memiliki sistem pencernaan yang sempurna.

Beberapa makanan sebaiknya dihindari oleh bayi berdasarkan usianya, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (8/4/2011) yaitu:

Usia 4-6 bulan
Orangtua sebaiknya tidak memberikan makanan jenis apapun pada bayi sekalipun makanan tersebut lembut atau berupa bubur, karena semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sudah tercukupi melalui ASI sampai 6 bulan pertama.

Usia 6-12 bulan
Meskipun bayi sudah boleh menerima makanan selain susu, tapi beberapa jenis makanan sebaiknya dihindari oleh bayi yaitu:

  1. Madu, ada kemungkinan madu mengandung Clostridium botulinum yang bisa menyebabkan botulisme. Pada orang dewasa saluran ususnya bisa mencegah pertumbuhan spora ini, tapi pada bayi spora ini bisa tumbuh dan menghasilkan racun yang mengancam jiwa.
  2. Selai kacang, selai kacang umumnya memiliki tekstur yang lengket sehingga membuat bayi sulit untuk menelan.
  3. Susu sapi, umumnya bayi tidak bisa mencerna protein dalam susu sapi untuk 1 tahun pertama. Selain itu ia juga tidak membutuhkan semua nutrisi yang terkandung di dalam susu, dan jumlah tertentu dari mineral bisa merusak ginjalnya.
  4. Makanan dengan potongan besar, sayuran seperti wortel, seledri atau tomat, daging atau keju sebaiknya dipotong dadu kecil, diparut atau direbus lalu dipotong untuk mencegah makanan tersebut terjebak di tenggorokan. Sedangkan untuk buah sebaiknya diberikan dalam bentuk jus.
  5. Makanan keras, jenis makanan seperti kacang-kacangan, popcorn, permen keras, kismis atau buah kering lainnya berpotensi tersedak.

Usia 12-24 bulan

  1. Susu rendah lemak, sebagian besar anak balita muda membutuhkan lemak dan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan, karena itu hindari susu yang rendah lemak untuk anak dibawah usia 2 tahun.
  2. Hindari pula makanan yang berpotensi menyebabkan tersedak.

Usia 24-36 bulan
Meskipun anak sudah lebih banyak mengonsumsi variasi makanan, tapi masih ada kemungkinan ia tersedak oleh makanan. Untuk itu tetap hindari makanan yang keras, berpotongan besar serta permen karet karena umumnya anak belum mengerti cara mengonsumsi yang benar. Selain itu hindari anak makan sambil berjalan, menonton tv atau melakukan hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari makanan.

Makanan yang dikonsumsi anak memiliki fungsi penting sebagai nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangannya, tapi orangtua juga harus mempertimbangan sistem pencernaan yang dimiliki oleh anak apakah sudah sempurna atau belum.

 

Sumber: DetikHealth

Read Full Post »

Banyak orangtua yang tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa anaknya menyandang autis. Padahal bila autis dideteksi secara dini, maka bisa membuat peluang anak autis untuk mandiri lebih besar. Setidaknya ada 7 ciri utama autisme.

Diperkirakan sekitar 67 juta orang di dunia menyandang autis. Autisme diyakini sebagai gangguan perkembangan serius yang meningkat paling pesat di dunia.

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti penyebab penyakit tersebut dan belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Namun, deteksi dan penanganan dini akan membantu perbaikan perkembangan anak penyandang autis.

“Dari studi lebih dari 20 tahun yang dilakukan Robins D dkk dalam ‘The Modified Checklist for Autism in Toodlers, Journal of Autism and Development Disorders’ ada 7 checklist yang bisa digunakan untuk mendeteksi autis secara dini,” jelas Gayatri Pamoedji, SE, MHc, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), dalam acara Media Briefing Peluncuran Komik Autisme Pertama di Indonesia di Rumah MPATI, Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Gayatri menyampaikan 7 ciri utama untuk mendeteksi anak autisme, yaitu:

  1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain?
  2. Apakah anak Anda pernah menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu?
  3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari 1 atau 2 detik?
  4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah anak Anda menirunya?
  5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil?
  6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan tersebut?
  7. Apakah anak Anda pernah bermain ‘sandiwara’ misalnya berpura-pura berbicara di telepon atau berpura-pura menyuapi boneka?

Seorang anak berpeluang menyandang autis jika minimal 2 dari pertanyaaan diatas dijawab tidak.

“Tidak semua anak yang berpeluang menyandang autis memenuhi kriteria autis. 7 ciri utama ini digunakan agar orangtua dan guru waspada untuk segera memeriksa dan mendiagnosa anak yang berpeluang autis kepada dokter terdekat,” jelas Gayatri.

Menurutnya, Modified Checklist for Autism in Toodlers bisa digunakan untuk mendeteksi gejala autis untuk anak usia 18 bulan atau sebelum 3 tahun.

“Karena gejala autisme biasanya tampak sebelum anak mencapai usia tiga tahun,” lanjut Gayatri yang juga seorang ibu dari remaja penyandang autis.

Menurutnya, bila orangtua sudah bisa mendeteksi gejala autisme secara dini maka mereka akan memiliki peluang yang semakin besar untuk membuat anaknya menjadi mandiri.

“Yang penting membuat anak mandiri dan jauhkan mitos-mitos yang salah tentang autis. Punya anak autis memang berat tapi bukan akhir dari segalanya. Setipis apapun, harapan itu pasti ada,” tegas Gayatri.

 

Sumber: DetikHealth

Read Full Post »

Sebagian besar anak yang belum bisa berlatih buang air kecil atau besar di toilet masih mengandalkan popok. Kapan si kecil bisa mulai lepas atau tidak menggunakan popok lagi?

Popok sekali pakai yang digunakan oleh balita memang bisa mempermudah hidup orangtua atau pengasuhnya karena membuatnya tidak repot harus selalu mencuci celana dan membuat rumahnya tetap bersih. Tapi kondisi ini sebaiknya tidak terus menerus terjadi karena tidak akan membantu balita membangun kesadarannya terhadap kebutuhan menggunakan toilet.

Seperti dikutip dari buku Your Baby Month by Month karangan Su Laurent dan Peter Reader yang diterbitkan Esensi, Kamis (13/1/2011) perkembangan balita untuk BAK (buang air kecil) atau BAB (buang air besar) di kamar mandi beragam karenanya tidak ada angka pasti mengenai kapan usia yang tepat.

Tapi orangtua bisa mulai melatihnya saat anak berusia 18-30 bulan, dan sebagian besar anak sudah lepas popoknya saat berusia 3 tahun.

Untuk mengetahui apakah si kecil sudah siap atau belum untuk melepas popok, lihatlah beberapa tanda yang menunjukkan kesiapan anak yaitu:

  1. Anak memberitahu orangtua atau pengasuhnya jika popok yang digunakan basah atau kotor.
  2. Anak menunjukkan ketertarikan ketika menggunakan kamar mandi.
  3. Anak memiliki kesadaran untuk buang air kecil atau buang air besar.

Jika anak sudah menunjukkan tanda tersebut, maka peran orangtua adalah memberikan dorongan psikologis pada anak dan jangan membuat anak merasa bersalah jika anak gagal mengontrol kandung kemih dan sistem pelepasannya. Karena rasa bersalah tersebut bisa membuat perkembangan proses ini semakin lama, untuk itu berilah si kecil waktu belajar.

Untuk awalnya orangtua bisa memulai dari pagi hingga sore hari, latihlah anak untuk mengucapkan atau memberitahu orangtuanya jika ingin pipis atau sakit perut. Pada tahap-tahap awal pembelajaran, sebaiknya tetap gunakan popok celana jika ingin bepergian dan tidur sampai balita benar-benar bisa mengontrol pipis dan BAB-nya.

Dalam proses melepaskan popok, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan orangtua pada balitanya yaitu:

  1. Memarahi balita karena ia mengompol atau pipis sembarangan dan tidak memberitahu orangtuanya.
  2. Melepaskan popok saat malam hari di awal-awal proses pembelajaran, karena banyak balita yang belum siap untuk berhenti menggunakan popok sewaktu tidur.
  3. Memaksa anak untuk langsung bisa pipis atau BAK di kamar mandi, karena proses ini butuh pembelajaran dan orangtua harus meluangkan waktu untuk mengajarinya.

 

Sumber: DetikHealth

Read Full Post »

Salah satu pemeriksaan penting yang dilakukan selama hamil adalah melakukan ultrasonografi (USG). Tapi kini ada berbagai macam tipe USG yaitu USG 2D, 3D dan 4D. Apa bedanya dan kapan harus digunakan?

USG adalah pemeriksaan kondisi janin yang dikandung dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. USG setidaknya dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 3 bulan untuk mengetahui usia kandungan dan lokasi janin, lalu saat trimester kedua untuk mengetahui ada kelainan atau tidak.

Pada usia kehamilan 18-23 minggu, kelainan struktural janin sudah bisa terdeteksi dengan menggunakan ultrasonografi. Dan pada usia kehamilan 30-34 minggu sudah dapat mendeteksi kelainan posisi dan pertumbuhan janin, plasenta, tali pusat dan juga apakah air ketubannya cukup atau tidak.

Dikutip dari About.com, pemeriksaan standar untuk USG adalah menggunakan 2D. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini meningkat dengan jenis 3D dan 4D.

Secara umum ketiga jenis USG ini memiliki tujuan yang sama, hanya semakin besar dimensinya maka gambar yang muncul akan semakin detail terlihat.

USG 2 Dimensi
Melakukan pemeriksaan dengan USG 2D umumnya hanya memberikan gambar janin secara datar dan hanya secara garis besarnya saja sehingga hanya bisa dimengerti oleh dokter.

Tapi hasil USG ini tetap bisa digunakan untuk melihat organ-organ internal bayi. Pada pemeriksaan awal atau saat masih di trimester awal, biasanya dokter akan menggunakan jenis USG 2D untuk memeriksa kondisi janin.

Pada USG 2D ini gambar yang terlihat akan tampak samar-samar, meskipun gerakannya tetap terpantau dengan baik. Tapi jika dokter mencurigakan adanya kelainan, biasanya disarankan untuk melakukan USG dengan dimensi yang lebih tinggi.

USG 3 Dimensi
Pemeriksaan menggunakan USG 3D akan memberikan gambaran janin yang lebih detail. Selain itu gambar yang dihasilkan bisa dimengerti oleh ibu dan juga anggota keluarga lainnya, serta bisa melihat anatomi tubuh janinnya dengan lebih jelas misalnya dapat mendeteksi gangguan bibir sumbing.

USG 4 Dimensi

Pada pemeriksaan USG 4D gambar yang dihasilkan lebih detail dan akurat serta bisa bergerak sehingga terlihat seperti sebuah film. USG 4D ini juga mampu memvisualisasikan anggota tubuh lebih jelas, misalnya hidung janin mancung atau pesek. Serta aktivitas janin di dalam perut seperti sedang menghisap jari, menguap atau memainkan jarinya.

Selain itu pemeriksaan ini dapat mendeteksi kelainan yang terjadi secara lebih dini, sehingga pengobatan yang diberikan lebih terarah. Kelainan yang dapat dideteksi seperti menentukan usia kehamilan, kelainan plasenta atau mendeteksi kehamilan ektopik. Keuntungan lain yang didapat adalah keluarga bisa mendapatkan film janinnya dalam bentuk CD.

Karenanya jika ingin melakukan pemeriksaan USG 3D atau 4D, sebaiknya dilakukan setelah struktur janin bisa dideteksi atau ditemukannya kelainan pada janin. Hal ini akan membuat pemeriksaan USG 3D atau 4D akan menjadi lebih bermanfaat dan tidak buang-buang uang.

Satu hal yang harus diperhatikan jika ingin melakukan pemeriksaan USG 3D atau 4D adalah akreditasi dari dokternya, sebaiknya USG 3D atau 4D dilakukan oleh dokter yang memang sudah memiliki sertifikat.

Sumber: http://www.detikhealth.com

Read Full Post »

Saat menggendong dan mengangkat bayi hal yang paling menjadi perhatian adalah kepala kepalanya karena sangat lunglai alias belum bertenaga. Kapan bayi bisa mengontrol kepalanya sendiri?

Setiap bayi yang baru lahir belum memiliki kontrol yang bagus dengan kepalanya, karena berat kepala lebih besar dari berat badannya. Hal ini juga karena otot lehernya masih cukup lemah sehingga belum bisa menopang kepala.

Namun nantinya ia akan mampu mengembangkan keterampilan penting ini, karena mengontrol kepala merupakan landasan dasar dari semua gerakan seperti duduk dan berjalan.

Seperti dikutip dari Babycenter, bayi mungkin akan mampu mengangkat kepala ketika berusia sekitar 1 bulan dan mampu menahan kepala saat duduk sekitar usia 4 bulan. Otot leher dan kontrol kepala akan semakin kuat dan mantap saat bayi berusia 6 bulan.

Berikut perkembangan bayi dalam mengontrol kepalanya:

Bayi baru lahir
Saat baru lahir, bayi akan sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama ibunya untuk menopang kepala dan leher. Kondisi ini akan berlangsung setidaknya pada bulan pertama atau lebih. Hal ini bisa membantu meningkatkan intensitas kontak mata dan ikatan antara bayi dan orangtua, terutama saat dalam buaian.

Usia 1-2 bulan
Pada akhir bulan pertama, bayi sudah bisa mengangkat kepalanya sebentar serta memutar ke sisi kanan dan kiri ketika sedang berbaring. Sekitar usia 6-8 minggu, ia sudah cukup kuat untuk mengangkat kepala dan ketika digendong di bahu sudah bisa menahan kepalanya meskipun dengan gemetar dan tidak lama. Sehingga ibu atau pengasuh masih harus membantu menopangnya.

Usia 3-4 bulan
Bayi akan dapat mengangkat kepala hingga 45 derajat saat tengkurap dan bisa dilakukan berulang-ulang kali. Otot lehernya pun sudah berkembang dan mulai cukup kuat untuk menopang kepala, namun orangtua harus tetap memberikan perhatian karena bayi belum sepenuhnya bisa mengontrol kepala sendiri.

Usia 5-6 bulan
Saat usia 5 bulan bayi sudah menunjukkan otot lehernya yang semakin kuat. Dan saat berusia 6 bulan, bayi dapat menahan kepalanya dengan mantap dan tegak serta akan lentur ke depan saat orang lain membantunya menarik ke posisi duduk.

Setelah bayi bisa mengontrol kepalanya dengan baik dan kuat, maka ia akan melanjutkannya ke posisi duduk, berguling dan merangkak. Pengendalian terhadap posisi kepala juga diperlukan untuk menelan makanan padat dan duduk di kursi yang lebih tinggi.

Sumber: detikHealth

Read Full Post »

Older Posts »