Feeds:
Posts
Comments

Image

 

Jangan Biarkan Sebuah Titik Menghancurkan Seluruh Kehidupan Anda

Seorang motivator bisnis yg terkenal, Jim Rohn, diundang sebuah perusahaan untuk melakukanmotivasi memacu semangat karyawannya yg sudah mengendor.

Dalam presentasinya, Jim Rohn mengambil satu kertas putih yg besar, kemudian dia membuat sebuah titik hitam kecil dengan pena persis di tengah kertas itu. Dia kemudian memperlihatkan kertas itu kepada semua orang yang hadir disana, lalu bertanya, “Apakah yang dapat anda lihat dari kertas ini?”

Dengan cepatnya seorang pria langsung menjawab, “Saya melihat sebuah titik hitam.”

“Baik, apa lagi yg anda lihat selain titik hitam?”

Karyawan yang lainnya terus memberikan jawaban yang sama, “Hanya sebuah titik hitam…”

“Tidakkah anda melihat yang lainnya, selain titik hitam?”

“Tidak” dengan serentak, hampir seluruh pengunjung itu menjawabnya.

“Bagaimana dgn lembaran kertas putih ini?” Jim kembali bertanya, “Saya yakin kamu semua pasti melihatnya, tapi mengapa tidak ada yang memperhatikannya? Dan hanya melihat pada sebuah titik kecil saja?”

Jim kemudian menjelaskan,

“Dalam hidup ini, kita juga selalu lalai & mengabaikan akan banyak hal-hal yang baik, hal-hal yang dahsyat, hal-hal yang cermerlang, hal-hal yg indah, yang kita miliki atau pernah terjadi disekitar kita, kita hanya fokus & memberikan perhatian pada masalah kecil, masalah sepele, masalah keuangan, masalah kekecewaan, masalah kegagalan.

Banyak dari masalah kita itu, persis seperti sebuah titik hitam kecil, dalam lembaran kertas besar ini.

Masalah itu kadang hanyalah kecil , sepele & tidak signifikan, hanya saja kita yang seringkali membesar-besarkan masalah kecil.

Jika kita dapat meluaskan pandangan kita untuk melihat dalam hidup kita, persis seperti kita lihat seluruh lembaran kertas ini, maka titik hitam tadi sangat kecil & hampir tidak berarti.”

Apakah anda termasuk orang yang hanya selalu melihat titik hitam itu …. ??

Jadi prinsipnya adalah : Jika ada masalah yang besar harus dikecilkan, lalu setelah kecil dihilangkan.

Isilah/tulislah/gambarlah kertas putih itu dengan hal hal yang menyenangkan tapi tidak membinasakanmu.

Salam Sukses…

Tuhan memberkati.

Balita membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itulah balita yang kurang tidur siang bisa lebih stres dan tidak bahagia, yang berisiko mengalami masalah mental seumur hidupnya kelak.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian baru yang dilakukan oleh peneliti dari University of Colorado Boulder.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak kecil yang kehilangan sekali waktu tidur siang saja bisa menjadi lebih cemas dan kurang tertarik pada dunia mereka. Anak yang kurang tidur siang juga kurang merasa bahagia dan sulit mengatasi stres.

Dan dalam jangka panjang, kurang tidur bahkan bisa menyebabkan masalah yang terkait dengan suasana hati seumur hidup.

Dalam penelitian ini, peneliti mengukur pola tidur balita berusia 2 sampai 3 tahun dengan mengenakan perangkat khusus yang mengukur berapa banyak mereka tidur. Peneliti kemudian menggambarkan ekspresi wajah balita ketika mereka mendapatkan tidur siang dan ekspresi lain pada saat kehilangan tidur siang.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research, menunjukkan bahwa balita tampak lelah dan 34 persen kurang positif bila kurang mendapatkan tidur siang. Mereka juga menjadi 3 kali lebih stres dibandingkan dengan yang mendapatkan cukup tidur.

Anak-anak yang kurang tidur juga 39 persen menjadi kurang penasaran, sehingga menjadi tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.

“Studi ini menunjukkan kurang tidur dapat menyebabkan balita mengekspresikan perasaan yang berbeda, yang dari waktu ke waktu dapat membentuk perkembangan otak emosional dan menempatkan mereka pada risiko masalah yang berhubungan dengan suasana hati seumur hidup,” jelas Prof LeBourgeois dari University of Colorado Boulder, seperti dilansir Dailymail, Kamis (5/1/2012).

Sama seperti gizi yang baik, lanjut Prof LeBourgeois, tidur yang cukup juga merupakan kebutuhan dasar.

Sumber: DetikHealth

Orang dengan asam urat (gout) harus memastikan kadar asam uratnya berada pada rentang normal. Meskipun tidak mengalami gejala gangguan rematik yang menyakitkan sekalipun tingginya kadar asam urat bisa berisiko orang terkena diabetes.

“Banyak orang yang memiliki kadar asam urat tidak terkontrol dan telah terbiasa untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Apalagi jika tidak menimbulkan gejala,” kata Eric Matteson, MD, MPH, kepala Rheumatology di Mayo Clinic, Rochester, Minn seperti dilansir dari WebMD, Senin (14/11/2011).

Tetapi hasil studi baru menunjukkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah berkaitan dengan risiko peningkatan diabetes hampir 20 persen dan risiko peningkatan kondisi yang mengarah pada perkembangan penyakit ginjal lebih dari 40 persen.

Asam urat adalah zat kimia yang dapat terbentuk dalam darah dan kadarnya dapat meningkat menjadi lebih tinggi dari normal dan menyebabkan gout. Sedangkan
gout adalah kondisi medis yang biasanya ditandai dengan serangan berulang dari artritis inflamasi akut yang menunjukkan gejala, antara lain kemerahan, nyeri, sendi panas, dan bengkak.

Sendi metatarsal phalangeal di pangkal jempol kaki adalah yang paling sering terkena gout, yaitu pada sekitar 50 persen kasus. Namun, juga dapat muncul berupa tophi, batu ginjal atau urate nephropathy. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan kadar asam urat dalam darah yang mengkristal dan disimpan dalam sendi, tendon dan jaringan sekitarnya.

Para peneliti meninjau catatan dari sekitar 2.000 orang dengan gout dalam database Veterans Administration. Pada awal penelitian kesemua peserta penelitian tidak menderita diabetes atau penyakit ginjal.

Eswar Krishnan, MD, asisten profesor Rheumatology di Stanford University, telah mempresentasikan hasil penelitian tersebut di pertemuan tahunan American College of Rheumatology.

Selama periode tiga tahun, 9 persen dari laki-laki dengan gout yang memiliki kadar asam urat tidak terkontrol berada pada kondisi yang mengarah pada perkembangan diabetes. Dibandingkan dengan 6 persen dari mereka dengan kadar asam urat yang terkontrol.

Setelah memperhitungkan faktor risiko lain untuk diabetes, ditemukan yang berhubungan dengan risiko diabetes 19 persen lebih tinggi pada mereka dengan kadar asam urat yang tidak terkontrol. Kadar asam urat dalam darah yang lebih tinggi dari angka 7 dianggap tidak terkontrol.

Penelitian kedua dilakukan oleh peneliti yang sama dengan menggunakan database yang sama. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa, lebih dari 3 tahun dengan periode gout pada pria yang memiliki kadar asam urat yang tak terkontrol memiliki risiko 40 persen lebih tinggi untuk penyakit ginjal dibandingkan dengan pria dengan kadar asam urat terkontrol.

Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa, kadar asam urat yang tidak terkontrol menyebabkan masalah kesehatan tetapi menunjukkan hubungan peningkatan kadar tersebut dengan masalah kesehatan.

“Gout adalah penyakit yang sangat tidak tertangani. Sekarang kita menemukan bahwa kadar asam urat yang tinggi, terkait dengan risiko lebih tinggi untuk serangan jantung, sindrom metabolik, diabetes, bahkan kematian akibat penyakit kardiovaskular,” kata Matteson.

“Oleh karena hal tersebut, maka akan dianjurkan untuk melakukan berbagai upaya agar kadar asam urat terkontrol, antara lain melalui diet atau obat-obatan. Hal yang paling penting, menjaga berat badan yang sehat. Karena obesitas merupakan faktor risiko utama untuk semua kondisi tersebut,” pungkas Matteson.

Sumber: detikhealth

Melewatkan sarapan sering dianggap sebagai taktik penurunan berat badan yang cukup efektif. Akhirnya banyak orang memotong kalori dari asupan harian dengan melewatkan sarapan lebih mudah untuk dilakukan. Namun, sayangnya hal tersebut justru bukan merupakan cara diet yang efektif.

Diet untuk mendapatkan berat badan yang ideal seringkali dilakukan oleh orang-orang dengan cara yang kurang benar. Terkadang orang lebih fokus pada hasil penurunan berat badan setelah diet tanpa memperhatikan apakah cara tersebut benar dan sehat.

Cara diet yang efektif menurut kebanyakan orang merupakan cara diet yang mudah dilakukan dan dapat dengan segera menurunkan berat badan.

Para ahli sering menekankan bahwa sarapan sangat penting dan tidak boleh terlewatkan. Mengurangi jumlah asupan kalori dapat dengan memilih makanan yang rendah kalori atau mengurangi jumlah porsi makan tanpa harus melewatkan waktu makan, termasuk sarapan.

Sebenarnya sarapan di pagi hari justru benar-benar dapat membantu seseorang untuk dapat mencapai berat badan sesuai yang diinginkan.

Tiga alasan mengapa sarapan dapat membantu menurunkan berat badan seperti dikutip dari Health, Minggu (13/11/2011), :

1. Sarapan memulai metabolisme

Jika seseorang melewatkan makan pertama di suatu hari, maka metabolisme seseorang tersebut benar-benar melambat untuk menghemat energi. Hasil studi menunjukkan bahwa, mereka yang sarapan pagi secara rutin justru dapat menurunkan atau mempertahankan berat badan.

Seseorang yang secara rutin sarapan juga lebih mungkin untuk berolahraga secara teratur. Jadi pastikan tetap melakukan sarapan pagi, dan melakukannya dalam satu jam setelah bangun tidur.

2. Membatasi gula dan menambahkan protein serta serat lebih banyak untuk sarapan

Protein dapat mengurangi ketagihan terhadap permen dan makanan manis lainnya. Jumlah protein yang tinggi dalam pilihan sarapan yang populer seperti yoghurt, biji-bijian, dan telur akan memberikan energi yang cukup.

Sehingga akan lebih kecil kemungkinannya untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang manis, dan tinggi kalori seperti kue dan minuman seperti kopi.

3. Serat dapat mengenyangkan lebih lama dan meratakan perut

Sereal yang terbuat dari biji-bijian, dan buah-buahan segar keduanya merupakan pilihan sarapan yang tepat karena sereal mengandung serat tinggi. Serat tidak hanya membuat seseorang merasa kenyang lebih lama sehingga seseorang menurunkan keinginanan seseorang untuk ngemil di antara waktu makan.

Asupan serat dalam jumlah yang cukup juga mengurangi kembung yang terkait dengan sembelit, sehingga membuat perut terlihat lebih datar atau tidak buncit.

Sumber: DetikHealth

Banyak yang berpikir seorang bayi belum mengerti apa-apa. Tapi studi menunjukkan bahwa kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah sudah dimiliki sejak usia 15 bulan.

Para peneliti menuturkan dalam penelitian ini bayi memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang adil dan tidak adil seperti dalam pembagian makanan dengan orang lain. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran awal mengenai keadilan sehingga bisa membedakan mana yang benar dan salah.

“Temuan kami menunjukkan bahwa norma-norma seperti keadilan lebih cepat diperoleh dari yang kita duga, seperti bayi yang lebih sensitif terhadap pembagian makanan atau mainan yang tidak adil,” ujar Jessica Sommerville, profesor psikologi dari University of Washington, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (8/10/2011).

Studi yang hasilnya diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE ini memperlihatkan 2 video singkat bayi berusia 15 bulan. Diketahui bayi menghabiskan banyak waktu untuk melihat bagaimana distribusi suatu makann dan melihat apakah ada seseorang yang mendapatkan lebih banyak dibanding orang lain.

“Bayi mengharapkan adanya distribusi yang sama dan adil dari makanan tersebut, dan mereka akan terkejut jika melihat satu orang mendapatkan biskuit atau susu lebih banyak dibanding yang lain,” ujar Sommerville.

Sommerville mengungkapkan bayi cenderung melihat adanya keadilan dan ketidakadilan dengan cara mengamati bagaimana seseorang memperlakukan satu sama lain. Bayi akan terkejut jika ia melihat adanya perbedaan distribusi.

“Hasil percobaan menunjukkan pemahaman mengenai keadilan dan salah benar sudah ada sejak dini. Mereka bersedia berbagi dengan yang lain dan akan benar-benar sensitif terhadap adanya pelanggaran keadilan tersebut,” ungkapnya.

 

Sumber: http://www.detikhealth.com

Seorang ayah tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, “Buku Harian Sang Pramugari” ini dengan cepat telah membuat puluhan ribu Netter terharu…

Saya adalah seorang pramugari biasa dari Eastern Airlines, karena masa kerja saya belum lama, jadi belum menjumpai masalah besar yang tidak bisa dilupakan, setiap hari terlewati dengan hal-hal kecil yaitu menuangkan air dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan dalam bekerja, sangatlah hambar.

Tapi hari ini, tanggal 7 Juni, saya telah menjumpai suatu kejadian yang merubah pemikiran saya terhadap pekerjaan dan pandangan hidup.

Hari ini kami melakukan penerbangan dari Shanghai ke Beijing, penumpang saat itu sangat banyak, satu unit pesawat terisi penuh.

Di antara rombongan orang yang naik pesawat ada seorang paman tua dari desa yang tidak menarik perhatian, dia membopong satu karung goni besar di punggungnya, dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan.

Saat itu saya sedang berada di depan pintu pesawat untuk menyambut para tamu, pikiran pertama yang menghampiri saya saat itu adalah masyarakat sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan seorang paman tua dari desa pun memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh royal.

Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, kami mulai menuangkan air, hingga tiba di baris kursi ke 20-an, terlihat paman tua tersebut, dia duduk dengan sangat hati-hati, tegak tidak bergerak sama sekali, karung goninya juga tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si paman tua itu menggendong karung goni besar sekilas seperti rak penyangga bola dunia (globe), tegak seperti patung.

Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa kami biarkan dia menggendong karung tersebut.

Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, kami mendapatkan bahwa dia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau.

Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam pesawat.

Kami memberitahu dia tidak ada masalah dan menyuruh seorang pramugara mengantarkannya ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, kami mendapati dirinya sedang mengamati penumpang lain minum air sambil terus menerus menjilat-jilat bibirnya sendiri, karenanya kami lantas menuangkan secangkir teh hangat dan kami letakkan di atas mejanya tanpa bertanya kepadanya.

Siapa sangka tindakan kami ini membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, kami pun berkata kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian dia melakukan tindakan yang jauh lebih mengejutkan lagi, buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya berupa uang koin satu sen-an, dan disodorkan kepada kami.

Kami mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis, dia tidak percaya. Dia sepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh kebencian.

Akhirnya kami baru mengetahui ternyata demi menghemat uang, sepanjang perjalanannya ia sebisa mungkin tidak naik kendaraan dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik taksi ke bandara, bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis.

Kami menasihatinya selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya dia mau mempercayai kami, duduk, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Kami menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan nasi, dia masih tetap saja mengatakan tidak mau.

Dia bercerita bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 6, sedangkan si sulung telah bekerja.

Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah. Karena anak sulung sudah bekerja bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya di kota, akan tetapi kedua orang tuanya tidak terbiasa, mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya lalu kembali lagi ke desa.

Kali ini karena anak sulungnya tidak ingin sang ayah susah payah naik angkutan, maka dibelikanlah tiket pesawat khusus bagi ayahnya dan bermaksud menemani ayahnya untuk berangkat bersama dengan pesawat karena sang ayah tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya, ia sangat khawatir ayahnya tidak mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya mati-matian tidak mau naik pesawat karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu pemborosan.

Akhirnya setelah bisa dinasihati sang ayah tetap bersikukuh untuk berangkat sendirian, tidak mau anaknya memboroskan uang untuk membeli selembar tiket lagi.

Dia membopong sekarung ketela merah kering yang diberikan pada anak bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi. Kami memberitahu dia bahwa barang bawaannya aman jika disimpan disitu, dia berdiri dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati.

Selama dalam perjalanan di pesawat kami sangat rajin menuangkan air minum untuknya, dan dia selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan. Walaupun kami tahu perut si paman tua sudah sangat lapar. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.

Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya. Kami semua sangat terkejut.

Bagi kami nasi yang kami lihat setiap hari ini, ternyata begitu berharganya bagi seorang kakek tua yang datang dari desa ini.

Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi anaknya. Oleh karena itu, seluruh makanan yang sisa yang tidak terbagikan kami bungkus semuanya untuk diberikan kepadanya agar dibawa. Lagi-lagi dia menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kami kembali dibuat terharu oleh paman tua ini.

Meskipun bukan suatu hal yang besar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu pelajaran yang sangat mendalam.

Tadinya saya berpikir bahwa kejadian ini sudah selesai sampai disini saja, siapa tahu setelah para tamu lainnya sudah turun dari pesawat, tinggallah paman tua itu seorang diri, kami membantunya membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar, saat kami akan membantunya menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, mendadak paman tua itu melakukan suatu tindakan yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup: dia berlutut di atas tanah, lalu dengan air mata berlinang dia bersujud kepada kami dan mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan mendapatkan balasan yang baik”.

Sambil tetap berlutut, sambil berkata seperti itu, sambil menangis, kami semua buru-buru memapahnya untuk berdiri, sambil tiada hentinya menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang penjaga yang bertugas untuk membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat untuk melanjutkan pekerjaan kami.

Terus terang saja, selama 5 tahun saya bekerja, di dalam pesawat saya telah menemui berbagai macam penumpang, ada yang tidak beradab, ada yang main pukul, juga ada yang berbuat onar tanpa alas an, tapi kami tidak pernah menjumpai orang yang berlutut kepada kami, terus terang kami juga tidak melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya menuangkan air agak sering untuk beliau, hal ini telah membuat seseorang yang telah berumur 70 tahun lebih berlutut untuk berterima kasih kepada kami, lagi pula melihat dia memanggul satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela tidak makan dan menahan lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan di pesawat, juga tidak mau menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan menjadi miliknya, tidak serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat mendalam, lain kali saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas budi orang lain.

Adalah paman tua ini yang telah mengajarkan kepada saya, bagaimana saya harus hidup dengan penuh kebajikan dan kejujuran. (The Epoch Times).

Sumber: erabaru.net

Banyak fotografer yang terbantu oleh kemampuan kameranya menyimpan data gambar dalam format RAW. Apa keunggulan memotret dengan output kamera RAW dibanding format lainnya seperti JPEG atau TIFF?

Apa itu RAW?

Sebelumnya, kita lihat dulu bagaimana perjalanan data di dalam kamera digital dari photon cahaya menjadi data digital di dalam kartu memori kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram Pipeline kerja dengan JPEG/TIFF sebagai output kamera

Bisa dilihat kalau format RAW adalah format gambar digital yang merupakan hasil tangkapan langsung dari sensor kamera digital. Sementara data JPEG dan TIFF merupakan hasil olahan oleh prosesor komputer di dalam kamera menjadi format yang lebih kompak.

Berbeda dengan JPEG dan TIFF yang memiliki extensi file dengan nama yang sama (*.jpeg dan *.tiff), RAW memiliki extensi file dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan produsen kamera digital itu sendiri (*.cr2 untuk canon, *.nef untuk nikon, dll). Sebetulnya sudah ada file universal untuk format RAW ini, yaitu *.dng… namun jarang sekali produsen kamera digital yang menggunakan format ini sebagai format penyimpanan datanya.

 

Mengapa memilih RAW?

 

Data RAW masih menyimpan data mentah tangkapan dari sensor digital. Oleh karena sensor digital pada kamera digital biasanya menangkap eksposur dalam 3 warna dasar digital yaitu Merah, Hijau, Biru (Red-Green-Blue atau RGB); kasarnya, setiap pixel pada sebuah gambar RAW menyimpan (biasanya) 3-4 data warna sekaligus.

Namun karena banyaknya data yang disimpan di dalam tiap pixel, data RAW jauh lebih besar ukurannya daripada format JPEG.

Untuk sekedar ilustrasi, sebuah data gambar dengan resolusi 12,1 megapixel dalam format JPEG memiliki ukuran 4 hingga 5MB, sementara dalam format RAW bisa berukuran 17 hingga 20MB.

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram Pipeline kerja dengan RAW sebagai output kamera

Pipeline kerja dengan format RAW

Lalu apa yang menyebabkan format RAW begitu berguna? Jika menilik dari bagan di atas, dengan menyimpan data gambar dalam bentuk RAW, artinya kita tidak mempercayakan begitu saja proses optimasi/kompresi gambar kepada prosesor di dalam kamera. Sebaliknya, nanti kitalah akan melakukan kompresi tersebut secara manual di komputer desktop. Cara kerja ini terasa lebih nyaman bagi saya karena saya bisa mengkustomisasi proses kompresi gambar ini sesuai dengan keinginan saya (bukan melalui automasi kompresi prosesor kamera digital saya yang mungkin saja tidak sesuai dengan bagaimana gambar tersebut saya inginkan). Saya dapat mengatur bagaimana proses sharpening sendiri, mengatur saturasi dan eksposurnya sendiri, dan banyak parameter lainnya.

Selain itu, Pipeline kerja dengan RAW ini sangat menguntungkan dalam sudut pandang kualitas gambar. Dalam mengkompresi data RAW ke dalam format JPEG/TIFF, terdapat proses-proses seperti demosaicing, white balancing, serta pengaturan tone, kontras, sharpening, saturasi, dll. Nah, proses-proses ini, terutama demosaicing adalah sebuah proses yang membutuhkan kinerja prosesor yang sangat berat untuk hasil yang lebih maksimal. Oleh karena itu, tentu saja melakukan proses demosaicing ini di komputer desktop akan menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik dibanding melakukannya dengan prosesor di dalam kamera, mengingat saat ini prosesor komputer desktop memiliki kemampuan processing yang jauh lebih kuat dibanding prosesor di dalam kamera digital.

Prosesor di dalam kamera cenderung di-set untuk melakukan proses demosaicing yang lebih cepat. Hal ini dilakukan guna menghemat waktu processing agar kamera dapat segera siap untuk mengambil gambar selanjutnya. Kompensasinya, tentu saja gambar hasil akhir yang relatif lebih buram dan kurang detail.

Kalau mau tau lebih banyak tentang proses demosaicing ini, baca di artikel “Sensor Kamera Digital : Jaring Penangkap Cahaya”

Pro dan Kons format RAW…

 

Kelebihan format data RAW :

  1. Masih menyimpan ‘data mentah’ (bayangkan film negatif pada fotografi non-digital) sehingga sangat membantu pada proses post-processing untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Masih menyimpan detail, dynamic range, dan warna tangkapan langsung dari sensor digital yang belum mengalami kompresi sehingga belum ada data yang hilang.

Sementara kelemahan format data RAW :

  1. Ukuran file yang cukup besar menyebabkan berkurangnya jumlah gambar yang dapat disimpan di dalam sebuah kartu memori serta menyebabkan proses penyimpanan data gambar ke dalam kartu memori relatif lebih lama;
  2. Memerlukan konversi terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai data gambar yang dapat dipublikasikan dan dibagi-bagikan karena ekstensi file untuk tiap produsen kamera biasanya berbeda-beda;
Sumber: http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/